Daftar Isi
Selampung.com – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berencana melakukan penambahan modal melalui rights issue BSI tahap II untuk memperkuat kemampuan penyaluran pembiayaan sekaligus meningkatkan porsi saham yang beredar di masyarakat atau free float. Perseroan menargetkan porsi saham publik tersebut dapat memenuhi ketentuan minimum 15 persen.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan, kebutuhan tambahan modal berkaitan dengan pertumbuhan pembiayaan yang masih kuat. Di sisi lain, perseroan juga perlu menyesuaikan struktur kepemilikan saham agar memenuhi ketentuan pasar modal dan membuka peluang masuk ke indeks saham tertentu, termasuk LQ45.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (15/10/2026), Anggoro menyampaikan bahwa BSI masih mencatat pertumbuhan pembiayaan sekitar 16 persen. Kondisi tersebut membuat perusahaan membutuhkan dukungan permodalan dan pendanaan yang memadai agar ekspansi bisnis dapat berlanjut.
BSI Kejar Free Float Saham 15 Persen
Berdasarkan data yang disampaikan manajemen, porsi saham BSI yang dimiliki masyarakat dalam bentuk nonwarkat masih sekitar 9,9 persen. Angka tersebut berada di bawah target minimum 15 persen yang ingin dicapai perseroan.
Kepemilikan saham BSI saat ini masih didominasi oleh tiga bank milik negara. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memegang sekitar 51,47 persen saham, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk melalui Divisi PPA sebesar 23,24 persen dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 15,38 persen. Sisanya dimiliki oleh masyarakat dan pemegang saham lainnya.
Free float mengacu pada saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik, sesuai definisi dan ketentuan yang berlaku. Porsi saham publik menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Anggoro berharap peningkatan free float dapat membantu BSI memenuhi ketentuan bursa dan membuka peluang bagi saham berkode BRIS untuk masuk ke indeks LQ45. Meski demikian, pemenuhan free float tidak secara otomatis menjamin sebuah saham masuk indeks karena terdapat kriteria lain yang harus dipenuhi.
Rights Issue Siapkan Maksimal 6,8 Miliar Saham Baru
Dalam rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II, BSI berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham baru Seri B. Saham tersebut memiliki nilai nominal Rp500 per lembar.
Berdasarkan jumlah maksimum dan nilai nominal tersebut, nilai nominal keseluruhan saham baru dapat mencapai Rp3,4 triliun. Namun, angka itu bukan berarti dana bersih yang pasti diterima perusahaan. Jumlah akhir saham yang diterbitkan, harga pelaksanaan, serta hasil penghimpunan dana akan mengikuti ketentuan final dalam prospektus.
Pelaksanaan rights issue masih membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat tersebut dijadwalkan berlangsung pada 6 November 2026.
BSI menargetkan aksi korporasi ini dapat dilaksanakan dan diselesaikan pada kuartal I 2027. Seluruh dana bersih yang diperoleh setelah dikurangi biaya emisi direncanakan digunakan untuk penyaluran pembiayaan guna mendukung pertumbuhan usaha perseroan.
Pertumbuhan Pembiayaan Jadi Alasan Penguatan Modal
Kebutuhan tambahan modal juga berkaitan dengan perkembangan bisnis BSI sepanjang 2026. Hingga Agustus 2026, pembiayaan perseroan tumbuh 16,21 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), menjadi Rp344 triliun.
Pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 17,71 persen yoy menjadi Rp389 triliun. Adapun dana murah atau current account savings account (CASA) tercatat sekitar Rp246 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan menunjukkan bahwa BSI membutuhkan dukungan modal yang cukup untuk menjaga ekspansi, sementara penghimpunan dana menjadi bagian penting dalam menopang kebutuhan penyaluran pembiayaan. Manajemen menilai rights issue dapat membantu memperkuat kapasitas bisnis dalam jangka menengah.
Dalam proyeksi perusahaan, permodalan untuk mendukung bisnis diperkirakan meningkat dari Rp51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp64,41 triliun pada 2027. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) juga diproyeksikan naik dari 20,38 persen menjadi 23,31 persen.
Angka tersebut merupakan proyeksi perusahaan, sehingga realisasinya dapat dipengaruhi oleh hasil aksi korporasi dan perkembangan bisnis ke depan.
Pemegang Saham Perlu Memperhatikan Jadwal dan Risiko Dilusi
Rights issue memberikan hak kepada pemegang saham yang memenuhi persyaratan untuk membeli saham baru sesuai mekanisme dan proporsi kepemilikannya. Pemegang saham perlu memperhatikan jadwal pelaksanaan, harga tebus, rasio hak, dan prospektus sebelum mengambil keputusan.
Jika pemegang saham tidak menggunakan haknya, persentase kepemilikannya dapat terdilusi setelah saham baru diterbitkan. Besarnya dampak tersebut akan bergantung pada struktur final rights issue dan keputusan masing-masing pemegang saham.
Bagi BSI, aksi korporasi ini memiliki dua sasaran utama, yakni mendukung pertumbuhan pembiayaan dan meningkatkan porsi saham publik. Namun, pencapaian free float 15 persen maupun peluang masuk LQ45 tetap bergantung pada hasil pelaksanaan rights issue dan pemenuhan ketentuan yang berlaku.








