Daftar Isi
Selampung.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah tajam pada penutupan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Indeks saham domestik turun 2,59 persen hingga kembali ke kisaran 5.900, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan penantian investor terhadap sejumlah data ekonomi global.
Mengutip data RTI yang diberitakan detikFinance, IHSG ditutup pada level 5.936,14 atau turun 157,61 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, indeks sempat dibuka di posisi 6.109,31, menyentuh level tertinggi 6.128,72, lalu merosot hingga titik terendah 5.917,39.
Tekanan jual terlihat dari pergerakan mayoritas saham. Sebanyak 602 saham berakhir melemah, sementara 114 saham menguat dan 77 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi sepanjang perdagangan tercatat mencapai Rp13,73 triliun, dengan volume sebanyak 62,18 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,88 juta kali.
IHSG Tertekan dalam Sejumlah Periode
Pelemahan pada perdagangan Senin menambah tekanan terhadap kinerja pasar saham Indonesia. Secara mingguan, IHSG tercatat turun 2,99 persen. Dalam periode satu bulan, indeks terkoreksi 9,16 persen.
Sementara itu, kinerja IHSG dalam tiga bulan masih mencatat kenaikan tipis 0,40 persen. Namun, jika dihitung selama enam bulan, indeks telah turun 16,29 persen.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jangka pendek berlangsung cukup kuat. Meski demikian, perubahan indeks dalam satu hari tidak dengan sendirinya menunjukkan arah pasar untuk periode berikutnya.
Konflik Timur Tengah Picu Sikap Hati-hati
Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip detikFinance menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sikap wait and see investor terhadap perkembangan global.
Salah satu sentimen yang diperhatikan pasar adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Houthi Yaman dengan Arab Saudi yang ditandai serangan ke Riyadh.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi meluasnya konflik dan kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat. Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan volatilitas harga minyak sekaligus mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencermati perkembangan politik dan ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi baru. Namun, sentimen global bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan saham karena kondisi fundamental perusahaan dan pasar domestik juga berpengaruh.
Data Inflasi AS Jadi Perhatian Pasar
Selain perkembangan geopolitik, investor menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI). Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Jika inflasi bertahan tinggi, peluang suku bunga tetap ketat dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan memberikan tekanan terhadap aset di negara berkembang, termasuk saham dan mata uang rupiah.
Pasar juga memantau data inflasi dan neraca perdagangan China untuk September. Perkembangan ekonomi negara tersebut penting bagi Indonesia karena dapat memengaruhi permintaan komoditas dan kinerja emiten yang bergantung pada ekspor.
Agenda pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada 12–18 Oktober 2026 turut menjadi perhatian investor, terutama terkait prospek ekonomi dunia, stabilitas keuangan, dan respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi.
Investor Menanti Arah Suku Bunga The Fed
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada pernyataan pejabat The Fed pada 14–16 Oktober 2026 setelah publikasi data inflasi AS. Investor akan mencari petunjuk mengenai kemungkinan perubahan kebijakan moneter ke depan.
Dolar AS yang bertahan di level tinggi juga menjadi risiko bagi rupiah dan aliran modal asing. Apabila aset berdenominasi dolar dinilai lebih menarik, sebagian investor internasional dapat memilih mengurangi kepemilikan aset di pasar berkembang.
Meski demikian, arah IHSG selanjutnya tetap bergantung pada kombinasi berbagai faktor, termasuk perkembangan geopolitik, data ekonomi, pergerakan rupiah, serta kondisi emiten di dalam negeri.
Bagi investor, volatilitas tinggi menjadi pengingat untuk menilai kembali risiko investasi, memperhatikan fundamental perusahaan, dan menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada pergerakan indeks harian. Penurunan tajam tidak otomatis menjadi sinyal bahwa seluruh saham sudah murah, sebagaimana penguatan indeks juga tidak menjamin kenaikan berkelanjutan.







