Finance

IHSG Anjlok 1% ke Level 5.876, Seluruh Sektor Saham Tertekan

IHSG turun 1% ke level 5.876 pada perdagangan pagi 13 Oktober 2026. Seluruh sektor saham melemah saat rupiah berada di kisaran Rp17.930.

IHSG Anjlok 1% ke 5.876 pada Perdagangan 13 Oktober 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Daftar Isi
  1. Mayoritas Saham Bergerak Melemah
  2. Seluruh Sektor Saham Berada di Zona Merah
  3. Sejumlah Saham Mengalami Tekanan
  4. Rupiah dan Sentimen Global Jadi Perhatian
  5. Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Selampung.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa pagi, 13 Oktober 2026. Tekanan jual membuat indeks saham domestik turun hingga 1% ke level 5.876, melanjutkan pelemahan setelah pasar saham Indonesia terkoreksi tajam pada perdagangan sebelumnya.

Mengutip data RTI yang diberitakan Liputan6, IHSG dibuka melemah 0,36% ke posisi 5.914,98. Pada pukul 09.07 WIB, indeks turun 0,53% menjadi 5.897,42. Tekanan kemudian meningkat hingga IHSG menyentuh level 5.876 sekitar pukul 09.20 WIB.

Pelemahan tersebut terjadi ketika mayoritas saham berada di zona merah dan seluruh sektor saham mengalami koreksi. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp17.930 per dolar AS.

Perlu dicatat, angka tersebut merupakan kondisi perdagangan pagi dan belum mencerminkan hasil penutupan bursa pada hari yang sama.

Mayoritas Saham Bergerak Melemah

Tekanan terhadap IHSG terlihat dari jumlah saham yang mengalami penurunan. Pada perdagangan pagi tersebut, sebanyak 371 saham melemah, sedangkan 187 saham menguat dan 164 saham tidak mengalami perubahan harga.

Aktivitas transaksi tercatat sebanyak 182.774 kali dengan volume perdagangan mencapai 3,7 miliar saham. Nilai transaksi sementara berada di kisaran Rp1,3 triliun.

Indeks LQ45 yang mencakup saham-saham berkapitalisasi besar dan relatif likuid juga mengalami tekanan. Indeks tersebut turun 0,69% ke posisi 585.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada IHSG secara keseluruhan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar dan berbagai kelompok industri juga menghadapi tekanan jual pada awal perdagangan.

Seluruh Sektor Saham Berada di Zona Merah

Koreksi IHSG pada pagi hari diikuti pelemahan di seluruh sektor saham. Sektor konsumen siklikal mencatat penurunan terdalam, yakni 1,74%.

Sektor barang baku turun 1,51%, sedangkan sektor energi melemah 1,25%. Sektor teknologi terkoreksi 1,24%, diikuti transportasi sebesar 1,27% dan infrastruktur sebesar 1,29%.

Sektor industri mengalami penurunan 1,3%, sementara sektor keuangan melemah 1,15%. Adapun sektor properti turun 0,89%, konsumen nonsiklikal 0,69%, dan kesehatan 0,24%.

Pelemahan yang terjadi secara luas memperlihatkan bahwa tekanan pasar pada awal perdagangan tidak terbatas pada satu kelompok industri tertentu. Meski demikian, pergerakan sektor dapat berubah selama jam perdagangan berlangsung.

Sejumlah Saham Mengalami Tekanan

Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham mencatat pergerakan berbeda. Saham JARR masih menguat 0,71% ke Rp2.820 per saham pada waktu pemantauan.

Sebaliknya, saham PGAS turun 2,46% menjadi Rp1.385 per saham. Saham ASII juga melemah 2,08% ke Rp4.710 per saham, sedangkan PTBA tercatat stagnan di harga Rp3.230 per saham.

Pergerakan tersebut merupakan gambaran pada awal sesi perdagangan, sehingga belum dapat digunakan untuk menyimpulkan kinerja akhir saham-saham tersebut sepanjang hari.

Investor perlu memperhatikan bahwa arah IHSG tidak selalu sama dengan pergerakan setiap emiten. Faktor fundamental perusahaan, likuiditas saham, sentimen industri, dan aktivitas transaksi dapat menghasilkan kinerja yang berbeda di tengah kondisi pasar yang sama.

Rupiah dan Sentimen Global Jadi Perhatian

Pelemahan IHSG berlangsung ketika rupiah berada di kisaran Rp17.930 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor karena dapat memengaruhi biaya impor, kewajiban perusahaan dalam mata uang asing, serta persepsi risiko terhadap aset domestik.

Selain faktor domestik, perkembangan pasar global juga berpotensi memengaruhi keputusan investor. Ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, dan perubahan ekspektasi suku bunga dapat mendorong perubahan minat terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Namun, pergerakan IHSG pada pagi hari tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab saja tanpa dukungan data dan penjelasan analis yang memadai. Investor perlu mencermati perkembangan sentimen serta data ekonomi terbaru sebelum menarik kesimpulan mengenai arah pasar.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Pelemahan IHSG hingga level 5.876 menambah tekanan setelah indeks ditutup turun 2,59% ke level 5.936,14 pada Senin, 12 Oktober 2026. Pergerakan tersebut membuat perkembangan bursa pada sesi berikutnya menjadi perhatian pelaku pasar.

Meski begitu, penurunan indeks tidak otomatis berarti seluruh saham telah berada pada harga murah. Investor perlu menilai valuasi, kondisi keuangan perusahaan, prospek bisnis, dan toleransi risiko sebelum mengambil keputusan.

Bagi investor jangka pendek, volatilitas dapat meningkatkan risiko perubahan harga dalam waktu singkat. Sementara itu, investor jangka panjang sebaiknya tetap berpegang pada strategi dan tujuan investasi yang telah ditetapkan, bukan mengambil keputusan hanya karena melihat indeks bergerak tajam.

Perkembangan IHSG hingga penutupan perdagangan Selasa akan menjadi penentu gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi pasar saham Indonesia pada hari tersebut.

Mungkin Anda Suka